Berita Hawzah – Dengan memohon kepada Allah Swt agar menerima segala amal ibadah kaum muslimin, menyajikan penjelasan mengenai doa hari kedelapan belas bulan suci Ramadhan yang disampaikan oleh Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hasan Zamani. Berikut adalah doa hari kedelapan belas bulan Ramadan beserta artinya:
«اللهمّ نَبّهْنی فیهِ لِبَرَكاتِ أسْحارِهِ ونوّرْ فیهِ قلبی بِضِیاءِ أنْوارِهِ وخُذْ بِكُلّ أعْضائی الى اتّباعِ آثارِهِ بِنورِكَ یا مُنَوّرَ قُلوبِ العارفین»
"Ya Allah, sadarkanlah aku di bulan ini untuk meraih berkah di waktu sahur, terangilah hatiku dengan cahaya-cahaya-Nya, dan bimbinglah seluruh anggota tubuhku untuk mengikuti jejak-jejak-Nya dengan cahaya-Mu, wahai Penerang hati orang-orang yang arif."
Di hari yang penuh berkah ini, orang yang berpuasa memanjatkan tiga permohonan kepada Allah. Pertama, mereka memohon agar diberi kesadaran akan keberkahan waktu sahur di bulan Ramadan. Permohonan ini mengandung tiga poin penting: Pertama, ketiga permohonan ini seimbang dan mencakup tiga aspek penting dalam diri manusia. Pada permohonan pertama, mereka meminta, "Sadarkanlah aku agar aku dapat memahami keberkahan tersebut." Kesadaran ini berkaitan dengan akal. Kedua, mereka memohon dengan hati yang tulus. Ketiga, mereka memohon agar anggota tubuh mereka aktif melakukan kebaikan. Setelah hati tergerak pada kebaikan, barulah anggota tubuh mengikuti. Dari poin-poin ini, terlihat jelas bahwa terdapat urutan logis yang terjaga dalam doa ini.
Sikap dan Perlakuan Allah Ta'ala Terhadap Hamba-Hamba yang Berdosa
Allah Swt memiliki dua jenis perlakuan terhadap hamba-Nya yang berdosa: sebagian dibiarkan dalam kesesatan mereka, dan hari demi hari dosa mereka bertambah. Allah membiarkan mereka dalam keadaan mereka sendiri. Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak ungkapan tentang pembiaran ini, seperti: «فَذَرۡهُمۡ فِي غَمۡرَتِهِمۡ حَتَّىٰ حِينٍ», "Wahai Nabi, biarkanlah orang-orang berdosa itu, biarkan mereka berputar-putar dalam kesesatan mereka." (Al-Mukminun: 54)
Kemudian, Allah Swt di ayat lain berfirman: «یضل به من یشاء», "tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya." (An-Nahl: 93). Maksudnya, Allah Swt membiarkan orang yang menyimpang. Ketika Dia membiarkan orang itu, ia semakin terjerumus dalam kesesatan. Dapat dikatakan bahwa "menyesatkan" secara majazi (kiasan) ditujukan kepada Allah.
Penting untuk mengkaji siapa saja yang dibiarkan Allah dalam keadaan (tersesat) mereka. Pembiaran ini dapat terlihat ketika seseorang diberi banyak fasilitas dan nikmat, namun menggunakannya untuk kesenangan duniawi. Kemurkaan Allah atas perbuatan ini dapat menyebabkan nikmat tersebut berbalik menjadi malapetaka.
Jangan Iri pada Kemewahan Materi Orang Kafir
Oleh karena itu, sebagian orang beriman yang terpukau oleh bangsa-bangsa kafir yang memiliki kenikmatan materi dan kekayaan melimpah, hendaknya tidak merasa iri. Mereka harus menyadari bahwa kekayaan dan fasilitas tersebut, karena tidak digunakan di jalan kebenaran, justru akan menyebabkan mereka semakin terjerumus dan tersesat.
Rahmat Allah Bagi Orang Beriman yang Berdosa
Golongan kedua dari manusia yang berdosa adalah mereka yang, meskipun memiliki iman dan kejujuran, terkadang melakukan kesalahan. Di sinilah rahmat Allah bersemi, dan karena iman serta kejujuran mereka, Allah membangkitkan mereka.
Terkadang, Allah menimpakan kegagalan atau penyakit kepada mereka agar mereka ingat kepada Allah, merendahkan diri, dan berdoa. Doa untuk menghilangkan masalah menjadi alasan untuk kembali kepada Allah.
Masalah yang Menimpa Orang Beriman Adalah Rahmat Allah
Masalah yang menimpa orang beriman adalah rahmat Allah agar mereka kembali kepada-Nya. Kita harus bersyukur kepada Allah yang telah membangkitkan mereka. Contohnya, seorang pemuda yang melakukan pencurian untuk pertama kalinya, jika hukum dan orang lain membiarkannya, ia akan menjadi lebih celaka. Namun, jika pada pencurian pertama itu ia dihukum atau bahkan dicambuk, ia akan tersadar dan tidak akan melakukan perbuatan tersebut dan perbuatan yang melanggar hukum lagi. Pemuda itu harus bersyukur kepada hukum dan orang lain yang telah menyadarkannya dari menempuh jalan yang salah. Sementara, orang yang berpuasa memohon kepada Allah agar menyadarkannya agar tidak lalai dari keberkahan waktu sahur.
Keberkahan Waktu Sahur di Bulan Ramadan
Poin ketiga yang perlu dibahas adalah keistimewaan dan keberkahan yang terkandung dalam waktu sahur di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. Bangun di waktu sahur itu sendiri adalah sebuah keberkahan, merupakan anugerah untuk melaksanakan salat malam. Di bulan-bulan lain, dibutuhkan upaya ekstra untuk bisa bangun dan bermunajat kepada Allah. Oleh karena itu, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Keberkahan selanjutnya dari waktu sahur Ramadan adalah kesempatan untuk bermunajat kepada Allah, meneteskan air mata penyesalan, menghidupkan malam dengan ibadah, terutama pada malam-malam Lailatul Qadar. Membaca doa Jawshan Kabir, terutama dengan memahami maknanya, adalah keberkahan lain dari waktu sahur yang penuh cahaya di bulan Ramadan ini.
Permohonan Agar Hati Diterangi Cahaya Ilahi
Doa kedua yang dipanjatkan oleh orang yang berpuasa adalah permohonan agar hatinya diterangi oleh cahaya Allah. Ada dua poin penting yang perlu diperhatikan: Pertama, hati manusia terbagi menjadi dua jenis, yaitu hati yang gelap dan hati yang bercahaya. Apa saja ciri-ciri hati yang gelap? Kegelapan hati disebabkan oleh karat dosa yang terus-menerus dilakukan, sehingga cahaya ilahi tidak dapat menembusnya. Akibatnya, hati seperti ini akan sulit memahami dan menerima kebenaran.
Contoh-contoh Hati yang Berkarat
Jika akal menjadi gelap, ia tidak lagi memiliki kemampuan untuk berpikir jernih. Karat-karat seperti kemunafikan dan kepura-puraan menyebabkan akal menjadi gelap. Begitu pula dengan sanjungan berlebihan yang menjadi hal umum, keraguan terhadap hari kiamat, Allah, surga, dan neraka, serta ketamakan dan keserakahan. Secara umum, semua dosa yang dilakukan manusia bagaikan karat yang menutupi hati.
Ciri-Ciri Hati yang Bercahaya dan Suci
Jenis hati yang kedua adalah hati yang bercahaya, yang memiliki beberapa ciri; salah satunya adalah memiliki landasan untuk menerima ajaran ilahi. Sebagian orang tidak mendapatkan pendidikan formal tetapi memiliki ilmu laduni dari Allah Ta'ala, sebagaimana riwayat Para Imam Maksum (as) mengatakan, «العلم نور یقذفه الله فی قلب من یشاء»,"(Ilmu adalah cahaya yang dilemparkan Allah ke dalam hati siapa yang Dia kehendaki." Allah Swt memberikan ilmu kepada seluruh manusia. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran, Allah menganugerahkan ilmu ladunni kepada sebagian wali-Nya.
Jika hati bersih, ia akan menerima ilmu seperti penerima yang tidak memiliki halangan, dan hati seperti itu akan memiliki kedudukan seperti menjadi rumah Allah, «قلب المومن عرش الرحمن» (Hati orang mukmin adalah Arsy Allah). Dan jika hati seorang mukmin telah menjadi rumah Allah, maka tidak boleh ada yang lain (selain Allah) masuk ke dalam hati itu. Inilah mengapa Imam Khomeini selalu mengulang kalimat ini dari munajat Sya'baniyah, « الهی هب لی کمال الانقطاع الیک حتی تخرق ابصار القلوب حجب النور», "Ya Allah, berikanlah kepadaku hati yang terputus dari selain-Mu dan menuju kepada-Mu."
Permohonan ketiga kepada Allah adalah agar anggota tubuhku aktif untuk beribadah kepada Allah.
Manusia itu ada dua tipe: pekerja keras dan pemalas. Orang-orang pemalas contohnya adalah mereka yang lalai dalam shalat, mengutamakan urusan lain daripada shalat, atau melaksanakan shalat dengan tergesa-gesa dan enggan untuk shalat dengan khusyuk dan panjang. Atau, mereka merasa berat untuk berpuasa. Semua ini menunjukkan bahwa anggota tubuh mereka tidak mendukung untuk beribadah.
Sayangnya, ada orang-orang yang hidup di tempat yang nyaman dan sejuk, namun tetap tidak berpuasa dan merasa tidak nyaman berpuasa di cuaca panas dan hari yang panjang. Perasaan tidak nyaman ini menunjukkan bahwa anggota tubuh mereka tidak mendukung ketaatan. Namun, di sisi lain, ada orang-orang seperti Syahid Chahraman yang di medan perang antara kebenaran melawan kebatilan, dalam kondisi sulit sekalipun, tetap melaksanakan semua ibadah dan berpuasa.
Imam Muhammad Al-Jawad 'alaihissalam menyatakan bahwa salah satu hikmah puasa adalah agar orang kaya dapat merasakan lapar, sehingga tumbuh empati dan pemahaman terhadap kondisi orang miskin. Oleh karena itu, jika kita tidak merasakan lapar dan haus saat berpuasa, kita seharusnya merasa ada yang kurang dalam ibadah kita.
Semangat ini dimiliki oleh orang-orang yang menggunakan anggota tubuhnya untuk taat kepada Allah. Mereka inilah yang, seperti yang dijelaskan Al-Quran, saling berlomba dalam kebaikan.
«یا مُنَوّرَ قُلوبِ العارفین», "wahai Penerang hati orang-orang yang arif."
Terdapat satu poin penting dalam kalimat penutup doa hari ini, yaitu merujuk pada cahaya Allah.
Allah memberikan tiga jenis cahaya:
Pertama, Cahaya Dzat Allah: Inilah yang disebutkan dalam firman-Nya, « الله نور السماوات و الارض», "Allah adalah cahaya langit dan bumi."
Kedua, Cahaya Umum: Yaitu cahaya yang Allah berikan kepada seluruh alam semesta (wujud). Hal ini karena Allah adalah penerang alam.
Ketiga, Cahaya Khusus: Cahaya ini dikhususkan bagi para wali, 'arifin, imam, dan nabi Allah. Dalam bagian doa ini, kita memohon kepada Allah agar kita juga mendapatkan manfaat dari cahaya khusus tersebut.
Komentar Anda